Ngemplak I epidemik DBD !

Semenjak Mei 2017 lalu, warga di wilayah Ngemplak I dan Ngemplak II banyak mengeluhkan ancaman wabah Demam Berdarah menyusul meninggalnya 1 Balita di Padukuhan Ngemplak I yang positif DBD. Pada 22 Juni 2017 lalu, anak usia 8 tahun , warga Ngemplak I kembali meninggal dunia karena kasus yang sama, DBD. Pihak Puskesmas Ngemplak I kemudian memberikan keterangan bahwa kejadian meninggalnya 2 korban dalam 2 bulan terakhir di wilayah Ngemplak I cukup untuk membuat status wilayah Ngemplak I sebagai epidemik DBD.

Menurut Keterangan M.Yasluh, staf Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Ngemplak, telah dilaksanakan 2 paket Fogging ( 1 paket = 4x ) di wilayah Ngemplak I dan Ngemplak II, sebagai wilayah terdekat epidemik, walaupun wilayah Ngemplak II tidak ada laporan korban meninggal dunia akibat DBD. Fogging tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan warga pada bulan Mei lalu, yang dilaksanakan oleh Tim Pokjanal/ Lintas Sektoral, yang terdiri dari Kecamatan, Puskesmas, Koramil, Polsek, dan Tim Desa.

Sebagai anggota Tim Linsek yang turut aktif selama kegiatan Fogging tersebut, beliau menghimbau seluruh warga di wilayah Ngemplak untuk menjaga kebersihan lingkungan, dan jangan sungkan untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat apabila mengalami demam lebih dari 3 hari. Pemeriksaan laboratorium pada pasien akan dapat mengidentifikasi penyakit yang diderita, sehingga petugas dapat memberikan penanganan preventif maupun pengobatan yang sesuai dengan diagnosis, jangan sampai terlambat, karena nyawa taruhannya. Beliau juga menuturkan bahwa kekhawtiran warga untuk tidak segera cek darah setelah periksa ke RS/Puskesmas karena biaya yang besar, padahal apabila warga sudah memiliki Kartu BPJS/ Kartu Indonesia Sehat, maka pemeriksaan laborat yang dibutuhkan sesuai indikasi medis dijamin , mereka tidak perlu membayar, karena cek lab gratis, dan bisa di lakukan di Puskesmas.

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *